Bali Overview Accommodation Dining Travel MICE Trading Art Galleries Fashion Textile Adventure Jewelry Advertise Others Contact
 
Play Group  
Kindergarten  
Elementry/Junior High School  
High School  
College  
University  
Courses & Degrees  
International School  
Folks Tale  
Story  
Others  
 
All About Bali  
Useful Info  
Company Info  
Site Map  
Advertise  
Contact  
Help  
Home  
 
Home > Education > Story > Potret Ibu Saya
 
Potret Ibu Saya
 
Potret seorang ibu menurut cendekiawan, Jiang Shiquan, dari dinasti Qing di abad kedelapan belas, mewakili nilai kebajikan tradisionil tentang Ibu di China: cinta, kesabaran, toleransi, kerajinan, pengorbanan diri, dan di atas segalanya, rasa tanggung jawab. Apa yang diperjuangkannya adalah memastikan bahwa anaknya mendapatkan pendidikan yang baik. Itu gambaran yang paling tepat bagi kebijaksanaan seorang ibu.

Ibu saya menikah dengan ayah saya ketika dia berusia delapan belas tahun. Ayah saya baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke empat puluh. Ibu adalah seorang wanita yang berpengetahuan, karena dia telah belajar dengan ayahnya sejak ia masih kecil.

Ketika saya berusia empat tahun, Ayah harus meninggalkan rumah untuk bekerja di tempat lain. Dia menitipkan Ibu dan saya untuk tinggal bersama kakek saya.

Saya mulai belajar dengan Ibu. Setiap hari dia akan mengajari saya sepuluh kosakata baru. Hari berikutnya dia akan menyuruh saya untuk menuliskan kosakata yang sudah saya pelajari. Ibu biasanya menenun ketika saya belajar. Ibu menginginkan saya untuk membaca dengan suara keras, dan sering kali suara saya dan suara alat tenun saling bersahutan satu dengan yang lain di ruang kami yang kecil itu.

Jika saya tidak bekerja keras, Ibu akan kecewa. Kadang-kadang dia memukul saya, meskipun jika dia melakukannya, matanya akan tergenang dengan air mata. Kadang-kadang saya menjadi sangat lelah dan tertidur di tangan Ibu. Tetapi Ibu akan membangunkan saya setelah beberapa saat dan menyuruh saya menyelesaikan tugas saya. Ketika saya membuka mata, saya mendapatkannya menangis lagi. Kemudian saya menangis bersamanya dan melanjutkan untuk belajar.

“Jika kamu tidak belajar,” Ibu memeluk saya dengan tangannya dan berkata, “apa yang akan kita tunjukkan kepada ayahmu ketika dia kembali?”

“Adik, kamu hanya mempunyai satu anak,” kata bibi saya kepada ibu saya. “Kenapa kamu begitu keras terhadapnya?”

“Jika saya mempunyai beberapa anak,” jawab Ibu, “mungkin akan berbeda. Justru karena saya hanya mempunyai satu anak, saya ingin dia sukses di masa depannya.”

Pada suatu hari Ibu jatuh sakit. Saya duduk di samping tempat tidurnya. Dia memandang saya dan saya memandang dia, hati kami dipenuhi oleh perasaan cinta yang tidak terlukiskan dibalut oleh penderitaan.

“Apa yang dapat saya lakukan untuk membuatmu bahagia, Ibu?” tanya saya.

“Jika kamu dapat mengulangi apa yang telah kamu pelajari, saya akan sangat bahagia.”

Maka saya berdiri, mengucapkan dengan keras dan jelas apa yang telah saya pelajari.

“Saya merasa jauh lebih baik sekarang.” kata Ibu dengan tersenyum.

Keluarga kakek saya tidak kaya, apalagi setelah panen yang buruk ketika segala sesuatu menjadi makin buruk. Semua baju dan sepatu saya dibuat oleh Ibu. Pada kenyataannya, hasil karyanya sangat bagus dan menjadi pujaan orang-orang sekitar. Kalau apa yang telah dibordirnya dijual di pasar, pasti dengan cepat akan terjual habis.

Ketika nenek sakit keras, Ibu menungguinya selama empat puluh hari dan empat puluh malam. Tetapi dia tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Sebelum menghidangkan makanan atau ramuan obat kepada nenek, dia akan mencicipinya dahulu untuk meyakinkan bahwa segala sesuatunya telah sempurna. Ketika Nenek meninggal, Ibu sangatlah sedih sampai dia tidak mau makan apa pun selama tujuh hari.

Ayah akhirnya kembali ketika saya berumur sepuluh tahun. Tahun berikutnya dia membawa kami ke tempat di mana dia ditunjuk sebagai hakim. Kapan pun Ayah mempunyai kasus yang penting untuk disidangkan, Ibu menganjurkannya untuk memberikan keputusan yang terbaik.

“Kamu tahu bahwa kamu sebaiknya tidak mengambil keputusan yang salah karena itu akan berakibat buruk pada anak kita,” dia memperingatkan Ayah. Dan Ayah selalu mengangguk setuju.

Jika Ayah melakukan sesuatu yang salah, Ibu akan menunjukkannya. Tetapi ketika Ayah menjadi tidak sabar dan menolak untuk mendengarkannya, dia akan mendiamkan masalah itu selama beberapa saat sampai perasaan Ayah membaik. Kemudian dia akan mengangkat masalah itu lagi dan berbicara dengannya sampai Ayah mengakui kesalahannya.

Ayah meninggal ketika Ibu berusia empat puluh tiga tahun. Ibu menangis dengan pahitnya dan pingsan beberapa kali. Di pemakaman, Ibu memberikan pidato singkat. Meskipun sangat datar, pidatonya membawa pesan akan cinta yang mendalam dan hati yang terluka yang membuat semua orang yang hadir ikut menangis.

Saya menikah pada usia dua puluh satu. Ibu memperlakukan istri saya seperti layaknya anaknya sendiri. Tahun berikutnya ketika saya lulus ujian negara, kebahagiaan Ibu sangat sulit dilukiskan.

Saya harus bekerja jauh dari rumah. Ketika Ibu rindu, dia akan menulis puisi untuk mengungkapkan perasaannya kepada saya. Tetapi dia tidak pernah mengirimkan satu pun dari puisinya kepada saya.

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu seorang pelukis potret yang sangat berbakat. Saya memintanya untuk melukis potret Ibu. Untuk latar belakangnya, saya menanyakan pendapat ibu.

“Ibu, saya harap lukisan ini akan membuatmu bahagia. Tolong beritahu saya apa yang ingin Ibu masukkan dalam latar belakang lukisan ini.”

“Yah,” ibu menghela napas. “Orangtuaku dan suamiku telah meninggal. Tidak ada lagi kebahagiaan untuk dibicarakan. Tetapi jika anak dan menantuku mengetahui bagaimana caranya mendidik anak-anak mereka. Aku akan puas.”

Maka, pelukis itu melukis sebuah potret dengan posisi ibu sedang menenun dengan alat tenunnya, istri saya duduk di sampingnya untuk membantunya, saya belajar di meja diterangi lilin yang besar, dan seorang anak laki dan seorang anak perempuan bermain di taman di bawah sinar bulan di mana pohon-pohon dan bunga-bunga berguguran karena hembusan angin musim gugur.

Ibu sangat menyukai lukisan itu. Maka saya menulis sebuah cerita mengenai Ibu saya untuk mengenang kejadian itu.
 
Prev
 
Komentar: Tidak ada yang lebih baik daripada ketenangan yang diberikan oleh ibu.
 
MENCIUS (372-289 S.M.)
Orang besar adalah orang yang tidak kehilangan hati anaknya.
 
Taken From Michael C. Tang Book
Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik - Refleksi Bagi Para Pemimpin
 
Copyright © 2005-2017, Bali Directory Designed and Managed by bali3000